Ayoooo....ayooooo,,,,,ayooooo
Ayoooo,,,,,semangat...........
Raihlah cita-cita yang belum km capai
Allahu Akbar''''''''
sekilas hidup di bumi ini,semoga dapat menjadi waktu yang cukup untuk ku siapkan bekal menuju hidup yang abadi,.hidup setelah mati.Amin. bimbing kami ya Allah..
| Reaksi: |

| Reaksi: |
| Reaksi: |
TAUBAT DARI SEGALA DOSA
Sarana kedua yang dicadangkan oleh penulis (Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan) adalah agar kita bertaubat dari segala dosa. Setelah bermuhasabah, kita melakukan pembersihan sebelum pengisian. Bertaubat dari segala maksiat, aib, dan ketidaksempurnaan dari segi pemikiran, akhlak dan amal. Serta merasakan sangat memerlukan Allah, dekat denganNya dan keredhaanNya.
Sebagaimana orang-orang yang berdosa perlu bertaubat dan kembali kepada Allah ta’ala, maka orang-orang yang taat dan beristiqamah kepada Allah juga perlu bertaubat dan kembali kepada Allah. Jika tidak orang dari golongan kedua itu terkena penyakit sombong dan jatuh ke dalam kesempurnaan diri yang palsu, yang dibisikkan oleh syaitan agar dia terus berada di dalam pelanggaran dan kemaksiatan.
Ibnu Taimiyyah berkata :
“Seorang hamba selalu berada di atas nikmat dari Allah yang perlu disyukuri dan dosa yang perlu harus diistighfari. Kedua hal tersbeut selalu terjadi kepada seorang hamba. Dia selalu bergelumang dengan nikmat Allah, perlu bertubat dan beristighfar. Kerana itu, manusia terbaik dan imam orang-orang yang bertaqwa i.e Rasulullah S.A.W selalu beristighfar kepada Allah dalam apa jua keadaan.”
Firman Allah:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَعۡتَذِرُواْ ٱلۡيَوۡمَۖ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (٧
Yang bermaksud:” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya.” (at-tahrim:8 = 66:8)
Dosa dan maksiat merupakan sebab terbesar terputusnya hati dari Allah, kelemahan dan tidak berdaya menginginkan kebaikan dan amal salih, serta kegagalannya secara hakiki.
Hakikat Dosa
Dosa ialah tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban syar’ie atau melalaikannya dalam bentuk tidak mengerjakannya dengan semestinya.
Misalnya lalai mengerjakan solat dalam waktunya, malas mengerjakannya secara berjemaah atau tidak khusyuk. Atau tidak melakukan amal makruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejahatan dan kemungkaran), atau lalai tidak melakukan dakwah kepada Allah ta’ala, atau tidak peduli dengan urusan dan keadaan orang Muslim. Dosa-dosa hati: sombong, dengki, bangga dengan diri sendiri, kagum dengan karya sendiri.
Syarat-Syarat Taubat
Taubat nasuhah: taubat jujur dan serius, yang menghapus kesalahan-kesalahan sebelumnya, yang melindungi pelakunya dari dosa-dosa sebelumnya.
Caranya: berhenti dari dosa pada masa mendatang, menyesali dosa-dosa silam, dan bertekad tidak mengerjakannya lagi pada masa akan datang.
Semua Dosa Itu Kesalahan
Seorang muslim itu sangat takut kepada Allah. Tidak ada beda pada dia dosa besar atau dosa kecil. Baginya semua dosa itu adalah kesalahan kepada Allah.
Seperti kata seorang salaf ” Jangan lihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada Siapa anda bermaksiat!”
Hukuman di dunia
Dosa yang pelakunya tidak bertaubat darinya, ada hukuman yang segera di dunia, sebelum hukuman di akhirat. Maka wajib kita rasakan ketika kita mendapat musibah atau kecelakaan, samada terhadap kita atau pun orang-orang di sekeliling kita.
Maka seorang Muslim yang cerdik akan sentiasa bertaubat dan beristighfar dalam setiap masa dan keadaan.
Di Antara Tarikan-Tarikan Jiwa Kita
Tidak perlu lagi dikatakan akan sentiasa ada hasutan-hasutan dari syaitan. “Anda masih muda lagi dan masih ada banyak masa lagi untuk bertaubat atau berubah.” “Ajal masih lama lagi.” (relaks lah, aku muda lagi. relakslah, tunggu ah aku kerja nanti, sekarang
Orang yang berakal,segera bertaubat sebelum ajal menjemput. Dalam apa keadaan jua ajal boleh datang: waktu bergelak ketawa bersama teman-teman, waktu menikmati hidangan juadah yang ibu sediakan, sewaktu dalam perjalanan pulang ke kampung halaman bertemu orang yang paling dicintai.
Hassan Al-Basri : “Sejumlah orang terkecoh oleh angan-angan mendapat keampunan, lalu dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat. Salah seorang dari mereka berkata “Aku bersangka baik dengan Allah.” Dia bohong! Sekiranya dia bersangka baik tentu dia akan berbuat baik.”
| Reaksi: |
| Reaksi: |
TAQWIYATU RUHIT-TADHHIYAH
(Memperkuat Jiwa Pengorbanan)
Apa yang membedakan pecinta sejati dengan pecinta gombal? Yang membedakannya adalah pengorbanan. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang ia berikan untuk sang kekasihnya atau sesuatu yang dicintainya itu.
Soal pengorbanan bagi kecintaan juga berlaku dalam kancah dakwah. Lihat, apa yang dilakukan Abu Bakar Shiddiq untuk membela yang paling dicintainya yakni Rasulullah saw dan dakwah. Saat genting-gentingnya situasi menjelang hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, Abu Bakar semoga Allah meridhoinya- tampil dengan segala pengorbanan untuk menyelamatkan dakwah. Ia pasang badan untuk menjadi tameng Rasulullah saw. dari segala kemungkinan buruk yang direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula hartanya. Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk turut berkontribusi bagi dakwah. Apa yang beliau lakukan itu sesuai benar dengan ungkapannya sendiri, Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun (Tidak boleh Islam berkurang sementara saya masih hidup).
Kepada orang seperti itulah pujian Allah swt ditujukan:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:111)
Dan semangat itu pula yang ingin ditumbuhkan kembali oleh Ustadz Hasan Al-Banna ke dalam jiwa para dai, sebagaimana tercantum dalam risalah Ilaa Ayyi Syai-in Nadun-Nas (Ke mana Kita Mengajak Manusia?). Pesan itu menegaskan: jika kita ingin menempa umat, membuat mereka bangkit untuk mencapai cita-cita mereka, yaitu kejayaan dan kemenangan, maka kita harus memiliki quwwatun nafsiyyah (kekuatan jiwa). Dan kekuatan jiwa, menurut pendiri Jamaah Ikhwanul Muslimin itu tercermin pada empat hal yang salah satunya adalah pengorbanan.
Meski demikian, keempat hal ini saling berjalin berkelindan, hingga satu sama sama lain tidak dapat dipisahkan, yakni:
1.Motivasi kuat yang tidak terjangkiti keloyoan.
Modal dasar pengorbanan adalah kekuatan motivasi. Ia juga merupakan syarat mutlak bagi perjuangan untuk kebangkitan dan kejayaan umat. Allah tidak akan menurunkan kemenangan kepada bangsa yang bermental kalah. Surga pun hanya akan menjadi milik orang yang memiliki kekuatan motivasi: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. As-Shaf / 61: 10-13)
Saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Quraisy dalam perang Badar, Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Demi mendengar kalimat itu, “Umair bergumam, “surga seluas langit dan bumi? Wah, wah! Mendengar itu Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan kata itu?” Umair menjawab, “Tidak apa-apa, saya cuma ingin termasuk penghuninya.” Rasulullah saw. menjawab, “Ya kamu termasuk penghuninya.”
Umair yang tengah memakan kurma pun lantas berkata,”Sungguh terlalu lama bila saya harus menunggu habisnya kurma ini.” Maka ia pun meletakkan kurma-kurma di tangannnya lalu menyeruak masuk ke tengah barisan musuh untuk bertarung hingga mati syahid. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
2.Kesetiaan yang tangguh yang tidak dihinggapi kepura-puraan dan pengkhianatan.
Kekuatan pengorbanan tidak hanya diukur dengan pengorbanan fisik dan material. Kesetiaan, kesabaran dan konsistensi dalam memperjuangkan kebenaran juga merupakan wujud pengorbanan. “Dan orang-orang yang sabar dalam rangka mengharap wajah Tuhan mereka dan mendirikan shalat serta menginfakkan sebagian yang Kami rizkikan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka itulah tempat tinggal akhir yang baik.” (Ar-Ra’d 22)
Kualitas pengorbanan seseorang tidak diukur oleh semangat semata-mata namun juga oleh wafa tsabit (kesetiaan yang tangguh). Sejarah merekam orang-orang yang memiliki wafa tsabit itu bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan dalam hidupnya, hingga bumi yang luas ini dirasakan sempit olehnya.
3.Pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran.
Pemuliaan itu adalah pengorbanan. Ini pula yang disampaikan Rasulullah saw kepada seorang sahabat bernama Basyir Bin Al-Khashashiyyah. Ia datang kepada Rasulullah saw. untuk berbai’at atas Islam. Rasulullah saw. mensyaratkan kepadanya untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; melaksanakan shalat lima waktu; berpuasa di bulan Ramadhan; mengeluarkan zakat; menunaikan haji; dan berjihad di jalan Allah. mendengar itu semua, Basyir menyahut, “Ya Rasulullah, yang dua hal (terakhir itu), saya tidak mampu. Tentang zakat, saya tidak punya harta selain sepuluh ekor unta. Dan itu adalah andalan dan kendaraan keluarga saya. Sedangkan tentang jihad, saya dengar orang-orang mengatakan bahwa siapa yang lari dari
4.Memahami, meyakini, dan menghargai prinsip.
Oleh karena itu, perjuangan dan pengorbanan harus berangkat dari pemahaman terhadap segala sisi Islam. Dengan kata lain pemahaman ini harus bersifat syamil (integral dan komprehensip).
Apa yang menyebabkan kaum muslimin generasi awal begitu tangguh dan konsisten saat diterpa badai ujian dan fitnah? Salah satu sebabnya karena mereka memahami Islam secara murni seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka segala badai ujian justeru menambah kokoh dan kuatnya iman dan pengorbanan mereka. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) bagaikan pohon yang baik. Akarnya menghujam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Tuhannya.” (Ibrahim 25)
Pengorbanan generasi-generasi terdahulu telah ditorehkan. Atas izin Allah, dengan pengorbanan mereka Islam mendapatkan jalan untuk merambah relung hati dan jiwa manusia. Lalu, apa pengorbanan kita?
Ayo optimis...Semangat!!..Allahu Akbar.....!!!:)
| Reaksi: |
| Reaksi: |